Antara Kesalahan dan Maaf

Pagi ini jadwal koe membaca message di inbox Facebook (agenda baru setelah munculnya facebook🙂 ) dari sekian banyak message, ada satu message yang koe balas agak lumayan panjang.
seorang teman mahasiswa mencurahkan perasaanya yang sedang bimbang dan sedih karena telah berbuat salah kepada orang lain dan sepertinya orang lain itu adalah teman atau teman dekatnya.

Inti dari message tersebut kurang lebih seperti ini : ketika kita telah berbuat salah atau dipandang salah di mata orang lain apakah akan terus menerus dipandang salah walaupun telah meminta maaf.

Yach…memang disadari atau tidak, kita itu lebih senang mengingat hal-hal negatif. Seperti kesalahan, keburukan dan aib seseorang dibanding kebaikan orang. sehingga ketika ada yang berbuat salah, maka kesalahan akan terus teringat, kebaikan-kebaikan yang pernah ada secara cepat akan tertutupi seolah olah tidak pernah ada kebaikan sedikit pun.

Saat kita diposisi yang berbuat salah, seringkali akan terus ada di ingatan orang yang kita dzalimi walaupun kita sudah meminta maaf karena tersimpan di Memori Jangka Panjang. Namun..hal tersebut harus kita jadikan penyemangat untuk terus memperbaiki diri dan meminta maaf khususnya melalui Allah SWT, mohon agar Allah menggerakan hati yang bersangkutan untuk memaafkan kita.

Seperti kisah Rasulullah Saw Saat menjelang akhir umur Rasulullah saw, beliau mengumpulkan seluruh segenap kaum muslim yang terdiri dari Muhajirin dan Anshar. Apa yang Beliau lakukan?
Beliau berdiri untuk memberi arahan dan wejangan. Isak tangis dan lelehan air mata para sahabat tak tertahankan lagi demi mendengar nasihat yang mengisyaratkan bahwa tak akan lama lagi Beliau akan meninggalkan alam fana. Beliau berkata :
“Demi Allah, aku mohon kepada kalian, siapa di antara kalian yang merasa pernah dizalimi olehku, majulah padaku dan balaslah aku” Semua hening, terdiam, tidak ada yang berkata apa pun apalagi maju kedepan.
Rasulullah saw mengulangi lagi kalimat beliau, namun tetap saja semua terdiam, hening tak bersuara apalagi maju ke hadapan Rasulullah Saw.

Namun Rasulullah tetap mengulanginya lagi untuk ketiga kalinya “Demi Allah, aku mohon kepada kalian, siapa di antara kalian yang merasa pernah dizalimi olehku, majulah padaku dan balaslah aku, sebelum aku mendapatkan pembalasan di hari kiamat.” Kali ini, tiba-tiba seseorang menyeruak dari kerumunan. Seorang lelaki tua, Ukkasyah namanya.

“Ya Rasulullah, jika bukan karena engkau mengulangi permintaan itu berkali-kali, aku tidak akan menghadap kepadamu” ia mulai berkata. “Dulu pada suatu peperangan dan kita pulang dengan kemenangan, dalam perjalanan pulang, untaku mendekati untamu. Lalu aku turun untuk mencium pahamu tapi engkau mengangkat sebilah dahan kayu lalu memukul pinggulku. Dan aku tidak tahu apakah engkau bermaksud memukulku atau memukul unta” sambungnya.

“Aku memperlindungkan dirimu dengan keagungan Allah, bagaimana mungkin seorang utusan Allah sengaja memukul,” jawab Rasulullah Saw. Beliau kemudian memerintahkan seseorang untuk mengambil sebilah dahan kayu yang sudah diraut halus dari rumahnya.

Setelah batang dahan kayu itu ada di tangannya, beliau menyerahkannya kepada Ukkasyah. Saat Abu Bakar dan Umar melihat hal itu, bangkitlah mereka seraya berkata, “Inilah kami berdua di hadapanmu, wahai Ukkasyah. Balaskanlah kepada kami, jangan kepada Rasulullah Saw.”

Melihat hal itu, Rasulullah Saw. berkata, “Wahai Abu Bakar, pergilah. Wahai Umar, pergilah. Allah sungguh telah mengetahui kedudukan dan posisi kalian.” Lalu bangkitlah Ali bin Abi Thalib seraya berkata, “Wahai Ukkasyah, inilah aku masih hidup di hadapan Rasulullah Saw. dan aku tak akan sampai hati melihat Rasulullah Saw. dipukul. Inilah punggunggku dan inilah perutku. Balaskanlah kepadaku dengan tanganmu dan cambuklah aku seratus kali, jangan kau membalas kepada Rasulullah Saw.”

Rasulullah Saw meresponnya dengan berkata, “Wahai Ali, duduklah. Allah sungguh telah mengetahui kedudukanmu dan niatmu.”  Tidak lama kemudian, bangkitlah Hasan dan Husain, cucu Rasulullah. “Wahai Ukkasyah, bukankah engkau tahu bahwa kami adalah cucu Rasulullah Saw.? Maka bila engkau membalaskan kepada kami maka akan sama dengan membalas kepada Rasulullah Saw.,” pinta mereka. Berkatalah Rasulullah Saw., “Duduklah kalian wahai penyejuk jiwaku. Allah pasti tidak akan melupakan posisi kalian ini.”

Rasulullah Saw. kemudian berkata, “Wahai Ukkasyah, pukullah jika engkau mau memukul.” Ukkasyah menjawab, “Wahai Rasulullah, engkau dulu memukulku dalam keadaan perutku tidak tertutup pakaian.” Maka Rasul pun menyingkapkan pakaian dari perutnya. Melihat adegan itu, semua orang yang hadir menangis dan saling berkata, “ Tegakah Ukkasyah memukul Rasulullah Saw..?”

Namun apa yang dilakukan Ukkasyah? Begitu Rasulullah Saw. menyingkapkan pakaian dari perutnya, Ukkasyah malah memeluk dan mencium perut Rasulullah Saw. seraya berkata, “Demi Allah, siapa yang akan sampai hati membalas engkau wahai Rasulullah.” Namun Rasulullah Saw. berkata, “Engkau harus memukulku atau memaafkanku.” Apa jawaban Ukkasyah? Ukkasyah (semoga Allah meridhainya) menjawab, “Sungguh aku telah memaafkan engkau dengan harapan Allah pun memaafkanku pada hari kiamat.”

Maka Rasulullah Saw. bersabda, “Siapa yang berkenan melihat pendampingku di surga, lihatlah orang tua ini.” Sejurus kemudian, berkerumunlah orang-orang mengitari dan menciumi Ukkasyah. Sebagian mereka mengatakan, “Berbahagialah engkau. Engkau mendapat derajat tinggi dan engkau menjadi pendamping Rasulullah Saw. di surga.”

“Dari Abi Hurairah (semoga Allah meridhainya) berkata, telah bersabda Rasulullah Saw., ‘Barangsiapa pernah melakukan kezaliman terhadap saudaranya baik menyangkut kehormatannya maupun sesuatu yang lain, maka hendaklah dia minta dihalalkan darinya hari ini, sebelum dinar dan dirham tidak berguna lagi (hari kiamat). (Kelak) jika dia mempunyai amal saleh, akan diambil darinya seukuran kezalimannya. Dan jika dia tidak mempunyai kebaikan (lagi), akan diambil dari keburukan saudaranya (yang dizalimi) kemudian dibebankan padanya.’” (H.R. Al-Bukhari)

Dari Kisah tersebut kita coba contoh apa yang dilakukan oleh Rasulullah saw. beranikan diri bicara kepada orang tersebut yang telah kita dzalimi, tawarkan kepadanya untuk membalas atas kesalahan yang sudah kita perbuat atau memaafkan. InsyaAllah orang tersebut akan digerakan hatinya oleh Allah SWT untuk memaafkan. atau paling tidak jika yang bersangkutan tidak mau memaakan, ia akan membalas sehingga kita tidak membawa kesalahan dan dosa ke akhirat kelak.

Semoga kita semua dapat meneladani hidup Rasulullah saw, aamiin…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: